Mimi Pipi: Keadilan Sosial Saat Usaha Mendapatkan Keturunan

Pipi kok mau sih diajak periksa kesuburan sperma? Tanya teman dekat Mimi beberapa tahun lalu. Suami si teman memang nggak mau diajak ke laboratorium untuk tes sperma dengan berbagai macam alasan. Mimi cuma bisa senyum, soalnya Pipi juga tau waktu Mimi ‘diobok-obok’ dokter kandungan, sehingga inilah keadilan sosial bagi pasangan yang sama-sama pengen mendapat keturunan.

Mimi menyadari pernikahan di usia 30an cukup berisiko bagi pihak perempuan. Dengan rentang beda usia 7 tahun dari Pipi, sudah kewajiban bagi Mimi untuk lebih dulu memeriksakan kesehatan reproduksi saat nggak juga hamil di tahun kedua pernikahan. Mimi Pipi sama sekali ngga menunda, kalau bisa lebih cepat saja daripada tulang-tulang Mimi nanti terlalu lelah saat menggendong bayi.

Mulailah petualangan mencari rekomendasi dokter kandungan di Malang. Mimi Pipi memilih dr Bambang Susilo Sp.OG. Sejak pertama periksa kondisi kandungan, sudah merasakan namanya USG transvaginal yang berasa kayak dimasukin alat bantu seks ke vagina. Dan itu berulang setiap periksa dengan Pipi yang selalu menemani.

Cerita Mimi: Rasanya USG Transvaginal Itu…

Usia 30an bagi perempuan adalah usia yang mulai rawan. Sel telur sudah mulai berkurang, begitu juga kekuatan kandungan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan kandungan perempuan di usia 30an, tapi Mimi berhasil melalui USG demi USG untuk melihat kondisi rahim dengan tanpa protes. Sekali rasanya Mimi merasa kesakitan karena stres tidak juga mendapat kehamilan. Pipi pun menyadarinya.

Jadi, ketika dokter memutuskan waktunya Pipi yang melakukan tes sperma, tidak ada bantahan. Adil, semua harus merasakan apa yang dirasakan pasangannya ketika diperiksa. Harus sama-sama menurunkan ego walaupun merasa akan ada tudingan ‘Kamu nggak sehat!’ ketika memeriksakan diri.

Baca: Pipi Akhirnya Tes Sperma di Malang

Mimi Pipi sempat hancur, down dan sedikit putus asa ketika hasil tes sperma memang jelek.

Tapi pegangan tangan Mimi Pipi nggak pernah lepas. Berdua sama-sama menguatkan bukan ini hasil yang diharapkan. Pasti ada jalan keluar dari setiap permasalahan. Peduli amat harus ngobat setiap hari, minum madu kesuburan, bahkan membuat ramuan susu kuda liar dari Sumbawa juga pernah dilakoni ketika dibawakan teman sebagai tanda perhatian.

Sekali lagi teman Mimi bertanya, Pipi kenapa mau ya? Sementara suaminya sangat keras kepala diajak untuk periksa kesehatan. Riwayat pasangan teman ini sebenarnya sehat, tapi sempat mengalami keguguran karena hamil di luar kandungan. Dokter Mimi pernah bilang, kondisi demikian harusnya lebih mendapat perhatian kalau ingin mendapat keturunan. Program kehamilannya tidak lagi coba-coba seperti pasangan yang belum pernah sekalipun mendapat kehamilan.

Beruntung sekali Mimi dan Pipi bisa saling menguatkan. Hingga mukjizat itu pun datang 😋.

Alhamdulillah, 2 Strip!

Merasakan hal yang sama dengan Mimi Pipi dalam program kehamilan? Ceritain yuk siapa tahu bisa plong curhatnya di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: